VERONIKA, SERAFINA and Prihatin and Dwi, Oktaviana (2025) EKSISTENSI RITUAL NOTOKNG MASYARAKAT DAYAK MALI DI KABUPATEN LANDAK TAHUN 2022–2025. Pendidikan Sejarah. pp. 1-7. ISSN UNSPECIFIED
abstrak-3.pdf
Download (300kB)
bab 1-1.pdf
Download (309kB)
bab 2.pdf
Download (322kB)
bab 3...pdf
Download (488kB)
Abstract
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan sejarah
munculnya ritual Notokng pada masyarakat Dayak Mali, menjelaskan makna
simbolik dan nilai-nilai yang terkandung di dalam ritual tersebut, serta
menganalisis bagaimana bentuk eksistensi dan upaya pelestarian yang
dilakukan masyarakat agar ritual ini tetap bertahan di era modern. Penelitian
ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan antropologi budaya
yang memandang budaya sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang
dinamis dan dapat beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Tahapan
penelitian meliputi heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik
sumber), interpretasi (penafsiran fakta sejarah), dan historiografi (penulisan
sejarah). Data diperoleh dari sumber primer melalui wawancara langsung
dengan tokoh adat, dukun, masyarakat dan pemerintah desa di Desa Angan
Tembawang, serta dokumentasi berupa foto dan benda upacara seperti
tengkorak, pahar, dan alat musik tradisional. Sedangkan sumber sekunder
diperoleh dari buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang relevan dengan tema
penelitian.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ritual Notokng merupakan upacara
adat pemberian makan kepada para leluhur sebagai simbol hubungan
harmonis antara manusia, alam, dan roh leluhur. Tahun 2022 menjadi masa
keemasan pelaksanaannya karena diselenggarakan secara besar-besaran
dengan dukungan pemerintah dan masyarakat luas. Namun, sejak 2023
hingga 2025, intensitas dan skala ritual menurun akibat pengaruh modernisasi
dan berkurangnya minat generasi muda. Meski demikian, nilai-nilai gotong
royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur tetap dijaga.
Beberapa penyesuaian dilakukan, seperti pengurangan durasi, jumlah sesaji,
serta dukungan administratif. Publikasi melalui media sosial juga menjadi
bentuk eksistensi dan adaptasi dalam menjaga keberlanjutan tradisi.
Eksistensi ritual Notokng hingga tahun 2025 menunjukkan bahwa
budaya Dayak Mali masih bertahan meskipun mengalami penyesuaian
bentuk. Masyarakat mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa
iii
meninggalkan nilai-nilai inti ritual sebagai wujud semangat mempertahankan
jati diri dan warisan leluhur di tengah arus globalisasi.
Kata Kunci
:
Eksistensi, Ritual Notokng, Dayak Mali, Pelestarian
Budaya, Perubahan Sosial.
| Item Type: | Article |
|---|---|
| Subjects: | Artikel |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Pendidikan Dan Pengetahuan Sosial > Pendidikan Sejarah |
| Depositing User: | perpus review ikip |
| Date Deposited: | 07 Jan 2026 04:05 |
| Last Modified: | 07 Jan 2026 04:05 |
| URI: | http://digilib.upgripnk.ac.id/id/eprint/3842 |
